Search News

Tuesday, October 7, 2025

Pandangan Dakwah Menurut Gen Z di Era Digital

Penulis artikel : Faqih Nugraha
Komunikasi Penyiaran Islam UINSSC

Di era digitalisasi remaja sangat berketergantungan dengan gadget (smartphone), setiap hari mereka melihat gadget untuk berbalas pesan, melihat informasi terkini dan sekedar membuka media sosial. Lalu sebagian remaja muslim ada yang memanfaatkan gadget untuk melihat materi dakwah, bisa dalam bentuk media tulis maupun video. Saat ini memang minim sekali minat remaja untuk menyimak materi dakwah secara langsung, jadi adanya media sosial saat ini membantu para da’i untuk menyampaikan materi-materi dakwahnya. Tapi, apakah media dakwah di era digitalisasi ini relevan menurut ulama?

1. Apa itu Dakwah?

Kata dakwah dalam bahasa arab yaitu دعا - يدعوا - دعوة (da’a - yad’u - da’watan) yang artinya memanggil, mengajak, atau menyeru. Menurut Abdullah (2018) menjelaskan bahwa dakwah merupakan misi penyebaran Islam sepanjang sejarah dan sepanjang zaman.

Menurut M. Arifin dalam Abdullah (2018) dakwah dapat dipahami sebagai kegiatan mengajak orang lain baik melalui lisan, tulisan, tindakan, maupun cara lainnya yang dilakukan secara sadar dan terencana, dengan tujuan mempengaruhi individu atau kelompok agar muncul pemahaman, kesadaran, sikap penghayatan, dan pengamalan ajaran agama pada diri mereka. Semua ini dilakukan tanpa unsur paksaan.

Menurut Abdul Munir Mulkan dalam Abdullah (2018) dakwah adalah upaya mengarahkan umat dari satu kondisi menuju kondisi yang lebih baik dalam seluruh aspek kehidupan, dengan tujuan mewujudkan ajaran Islam dalam praktik sehari-hari. Hal ini mencakup perbaikan kehidupan individu, keluarga, hingga masyarakat secara keseluruhan sebagai bagian dari tatanan hidup bersama.

Berdasarkan uraian diatas, dakwah merupakan sebuah ajakan yang terencana untuk membimbing seseorang maupun kelompok menuju kondisi kehidupan yang lebih baik, dengan tujuan ajaran Islam dapat dipahami dan diamalkan dalam keseharian. Proses ini harus dilakukan lewat berbagai cara tanpa adanya paksaan, karena intinya adalah untuk mewujudkan nilai-nilai Islam secara nyata dalam kehidupan pribadi sampai masyarakat luas.

2. Metode Media Dakwah

A. Metode Dakwah

Secara bahasa, "metode” itu berasal dari bahasa Yunani yang artinya methodos namun dalam bahasa arab bisa diartikan sebagai thariqah. keduanya memiliki makna yang sama, yaitu jalan atau cara. Oleh karena itu, pengertian metode dakwah secara bahasa adalah sebuah jalan yang dilalui untuk menyebarkan informasi atau ajaran agama.

Menurut Wahidin (2011) metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da'i (komunikator) kepada mad'u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.

Menurut Abdullah (2018) Metode didefinisikan sebagai jalan atau cara yang harus ditempuh dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sedangkan metode dakwah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari cara-cara berdakwah untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Menurut Bakhial Khauli dalam Wahidin (2011) dakwah adalah satu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan lain.

Menurut Syaikh Ali Mahfudz dalam Wahidin (2011) dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat ke-bahagiaan di dunia dan akhirat. Pendapat ini juga selaras dengan pendapat al-Ghazali bahwa amar ma'ruf nahi mungkar adalah inti gerakan dakwah dan penggerak dalam dinamika masyarakat Islam.

Dari beberapa pendapat di atas metode dakwah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara terbaik bagi seorang pendakwah untuk menyampaikan pesannya secara efektif, yang harus selalu dilandasi oleh kebijaksanaan dan keikhlasan. Inti dari aktivitas dakwah itu sendiri merupakan sebuah proses perubahan untuk menghidupkan ajaran Islam, yakni dengan mengajak manusia pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jadi, pemilihan metode yang tepat pada hakikatnya adalah upaya untuk memindahkan umat ke kondisi yang lebih baik demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Metode dakwah juga dibagi menjadi tiga macam yaitu:

Metode Bil-Hikmah yaitu cara berdakwah yang mengutamakan kebijaksanaan dengan pendapat yang kuat dan disampaikan sesuai kondisi serta tingkat pemahaman jama'ah.

Metode Maw'izhah Al-Hasanah yaitu pendekatan dakwah melalui nasihat-nasihat yang baik dan pengajaran yang lembut untuk menyentuh kalbu jama'ah.

Metode Mujadalah cara berdakwah melalui diskusi atau perdebatan yang dilakukan dengan cara terbaik untuk menjawab sanggahan dan meluruskan kesalahpahaman.

B. Media Dakwah

Secara etimologis, istilah "media" merupakan bentuk jamak dari kata Latin "median" yang berarti perantara atau saluran. Dalam lingkup studi komunikasi, media didefinisikan sebagai perantara yang berfungsi untuk mendistribusikan pesan dari sumber (komunikator) kepada audiens atau penerima pesan (komunikan). Alat media yang relevan saat ini yaitu radio, televisi, smartphone, komputer. Pakar psikologi George Miller dalam Abdullah (2018) menyebutkan bahwa “kita harus menganggap manusia sebagai saluran komunikasi”.

Agar pesan dakwah bisa sampai secara efektif, pemilihan medianya harus disesuaikan dengan kondisi audiens atau mad'uw-nya. Khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, ada dua jenis saluran komunikasi yang dominan digunakan yaitu media massa modern dan sistem komunikasi tradisional. Keputusan untuk memakai media modern atau tradisional ini sepenuhnya bergantung pada mana yang paling relevan dan mudah diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

Ibnu Khaldun mengemukakan klasifikasi masyarakat menjadi dua kelompok utama, yaitu masyarakat pedesaan (badawah) dan masyarakat perkotaan (hadharah). Masyarakat pedesaan dicirikan oleh pola hidup yang sederhana dan subsisten, namun memiliki ikatan solidaritas sosial dan kerja sama komunal yang sangat kuat. Sebaliknya, masyarakat perkotaan menikmati fasilitas yang lebih lengkap dan gaya hidup mewah, tetapi cenderung memiliki sifat individualistis yang mengakibatkan melemahnya solidaritas sosial. Perbedaan fundamental pada karakteristik sosiologis kedua kelompok masyarakat ini menjadi pertimbangan krusial bagi seorang pendakwah (da'i) dalam menentukan media serta pendekatan yang paling efektif untuk aktivitas dakwah.

​Contoh penerapan strategi dakwah yang relevan dengan kondisi sosial dapat ditinjau dari sejarah awal penyebaran Islam. Pada fase dakwah di Makkah, Rasulullah Saw. menggunakan media komunikasi interpersonal secara langsung dan rahasia untuk berdakwah kepada kerabat serta sahabat terdekatnya. Pendekatan personal ini terbukti berhasil mengislamkan tokoh-tokoh penting seperti Khadijah binti Khuwailid, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang dikenal sebagai as-Sabiqun al-Awwalun. Keberhasilan metode dakwah melalui jalur personal ini menjadi fondasi yang kokoh bagi perkembangan komunitas Muslim pada periode selanjutnya.

3. Peran Dakwah di Era Digital

Di era digital saat ini, peran media baru dan platform media sosial menjadi sangat penting dalam aktivitas dakwah. Penyampaian materi keagamaan sekarang tidak lagi terbatas seperti masjid, melainkan telah merambah ke dunia internet yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya dikalangan Gen Z.

​Gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat dan padat aktivitas membuat banyak orang tidak lagi memiliki waktu luang untuk mengakses media konvensional seperti televisi atau koran. Sebaliknya, internet telah menjadi sumber informasi utama yang diakses melalui gadget sejak bangun tidur hingga malam hari. Kemudahan akses tanpa batas dan waktu ini merupakan sebuah peluang strategis bagi para pendakwah.

​Oleh karena itu, dakwah di media sosial bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan untuk melengkapi dan memperkuat dakwah konvensional di dunia nyata. Langkah ini memungkinkan jangkauan audiens yang lebih luas dan mengatasi kendala waktu yang sering dihadapi dalam dakwah tatap muka.

Kesimpulannya, bagi Gen Z yang hidupnya udah tidak bisa lepas dari gadget, dakwah di era digital ini jadi super relevan. Kalo dulu harus datang langsung ke masjid atau pengajian buat dengerin ceramah, sekarang materinya bisa diakses lewat media sosial kapan aja dan di mana aja, mulai dari video pendek seperti reels atau short di media sosial sampe tulisan inspiratif di web. Para da'i pun jadi lebih kreatif dengan bikin konten yang sesuai sama anak muda. Dakwah di era digital ini bukan sekadar ikut-ikutan tren, tapi sebuah adaptasi yang membuat ajaran agama mudah dicerna oleh generasi yang lebih sering bergerak daripada kakinya untuk melangkah ke majelis ilmu.

Sumber referensi buku:

Abdullah. (2018). Ilmu Dakwah. PT Rajagrafindo Persada.

No comments:

Post a Comment